Pages

Wednesday, October 1, 2014

Membaca drama atau realita

Salah satu ciri gejala pada pasien schizofrenia disebut dengan halusinasi, ketidakmampuan untuk membedakan realita dan non reality. Tetapi akhir - akhir ini mungkin kita disuguhi drama, opera atau entah apa namanya. Sebuah tontonan tentang dua kubu yang saling merasa benar, merasa sebagai pihak pandawa. Hal ini membuat orang dengan status mental paling bagus sekalipun kesulitan membaca realita yang ada, fakta yang sebenarnya.

Paradigma, mindset yang tertanam adalah benar vs salah, kurawa vs pandawa, superhero vs penjahat. Realitanya bisa saja salah vs salah atau benar vs benar. Bahkan superhero vs superhero pun wajar - wajar saja. Bahwa yang berkonflik sama - sama benar pun bisa terjadi. Mindset hitam putih ini tertanam dibenak kita dan terendap dialam bawah sadar.

Teori manajemen konflik menjelaskan bahwa konflik ada di 3 area, keduanya benar, keduanya salah, atau salah satu benar/salah. Jika kita ingin melihat realita dengan baik, benar dan tepat maka sudah seharusnya kita memberi 3 opsi pada logika. Logika tidak harus terbiaskan oleh realita - realita semu. Kita tidak mampu membaca mana pandawa dan mana kurawa. Asas obyektif tetap mengedepankan segala peluang yang bisa muncul.

Jika ingin melihat realita dengan baik hanya mata batin, naluri, insting, indra ke enam dan kejernihan hati yang bisa melihatnya. Otak cenderung mudah di denial of service oleh banjir informasi, kalo otak hang maka kendali hati yang memimpin tubuh. Halusinasi2 pada schizofrenia bisa diobati tapi halusinasi pada orang normal dengan olah rasa dan self manajemen.

Semoga anda makin jernih melihat fakta dan realita, bukan lagi halusinasi yang terjadi karena hang otak akibat overload informasi.

Pada 27 Agt 2014 22.52, "Imron Rosyidi" <tentaralangit46@gmail.com> menulis:

Ada yang berseloroh bahwa waras itu ketika merasa gila karena orang gila tidak pernah merasa bahwa dirinya gila, Albert einstein mengatakan bahwa "gila adalah menginginkan hal berbeda tapi tetap melakukan hal yang sama". Jika mengacu ke kalimat Albert Einstein berapa banyak orang yang langsung terjustifikasi gila. Berharap sukses tapi tidak memulai bisnis atau belajar investasi. Bahkan membuat statemen bahwa "sukses itu adalah bukan pencapaian". Sukses itu tetaplah sebuah pencapaian.

Sukses itu sebuah pencapaian yang meskipun kecil tapi berdampak psikologis besar. Banyak harta mungkin impian besar banyak orang tapi ada juga yang bermimpi punya keturunan. Bahkan rela mengeluarkan harta banyak agar punya keturunan. Lalu mana yang lebih penting? Hanya anda yang mampu menafsirkan kesuksesan bukan orang lain. Hanya anda yang mampu mengejawantahkan kesuksesan itu dengan fakta dan realita masing - masing.

Waras itu bukan situasi, waras adalah efek dari kematangan psikologis. Jika menjomblo kelamaan pasti ada yang salah dengan psikologis. Traumatis atau justru terlalu perfeksionis, jadi waras bisa termanifestasi dalam berbagai aspek kewajaran, aspek general dan aspek - aspek lain yang berfundamen kuat. Waras adalah posisi atau keadaan homeostasis psikologis. Assertive dengan hitam dan putihnya dunia. Assertive dengan manis dan pahitnya kehidupan.

Waras adalah anda tidak marah disebut gila karena anda sadar bahwa ada psikometri yang dapat digunakan untuk mengukur kadar kewarasan, jika anda marah disebut gila jangan- jangan "gila beneran". Waras artinya anda sadar diri, daya tilik diri positiv, harga diri medium tidak tinggi tidak pula rendah, punya shock absorber yang tidak takut kalah, tidak takut gagal, tidak takut jatuh, berani kecewa dll.

Coba cek kewarasan anda, maka anda akan menemukan banyak orang gila seperti definisi albert einstein.